MATEMATIKA DALAM ISLAM

“Dalam matematika Yunani,angka bisa dikembangkan hanya dengan proses penambahan dan pengalian yang sangat melelahkan. Berbagai symbol Khawarizmi mengandung potensi adanya angka yang tidak terbatas. Jadi kita mungkin bisa mengatakan bahwa perkembangan dari aritmatika ke aljabar merupakan langkah dari ada ke “menjadi”, dan dari dunia Yunani ke dunia Islam yang hidup.” Kutipan ini diambil dari kata – kata George Sarton dalam bukunya Introduction to the History of Science, 1972. Kutipan tersebut, menyimpulkan bahwa Islam sendiri memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan ilmu matematika itu sendiri.

Dan matematika, adalah sebuah ilmu yang sudah tidak asing lagi kita dengar pada saat ini. Hampir semua orang, mengenal matematika. Bahkan, dalam institusi formal pun semenjak kita mengecap pendidikan TK hingga Sekolah Menengah Umum (SMU) pun diharuskan mempelajari matematika. Dan banyak orang mengira bahwa matematika adalah ilmu yang dihasilkan oleh para ilmuwan Barat sehingga didalamnya jauh dari nilai – nilai spiritual. Padahal menurut Abdusysyakir dalam bukunya yang berjudul Ketika Kyai Mengajar Matematika, sesungguhnya matematika itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan tradisi spiritual umat Islam, akrab dengan al-Qur’an, dan tentunya matematika juga dapat dijadikan sebagai “jalan” menuju pencapaian manfaat-kebahagiaan baik di dunia maupun akhirat.

Matematika berada pada posisi di antara dunia nyata dan dunia ghaib. Matematika tidak berada di dunia nyata sehingga objek matematika bersifat abstrak dan tidak berada di dunia ghaib sehingga objek matematika bukan suatu “penampakan”. Membawa objek dunia nyata ke dalam bahasa matematika disebut dengan abstraksi dan mewujudkan matematika dalam dunia nyata disebut aplikasi. Matematika berada di antara dunia syahadah dan ghaibiyah.

Dengan demikian, maka matematika bersifat “setengah nyata dan setengah gaib”. Untuk memahami objek yang nyata diperlukan pendekatan rasionalis, empiris, dan logis (bayani dan burhani). Sedangkan untuk memahami objek yang gaib diperlukan pendekatan intuitif, imajinatif, dan metafisis (irfani). Kekuatan utama dalam matematika justru terletak pada imajinasi atau intuisi yang kemudian diterima setelah dibuktikan secara logis atau deduktif. Dengan demikian, maka untuk mempelajari matematika perlu penggabungan ketiga pendekatan tersebut, yaitu bayani, burhani, dan ‘irfani.

Sehingga , matematika perlu dipelajari dengan kedua potensi kita, jasmani dan ruhani, aql dan qalb secara bersamaan. Qalb saja memang dapat mempelajari matematika, tetapi kadang tidak dapat memberikan penjelasan yang logis dan rasional. Qalb dapat menjawab 3 + 4 = 7, tetapi kadang tidak dapat menjawab mengapa bisa 7. Aql saja dapat mempelajari matematika, tetapi kadang terlalu lama dalam berpikir dan tidak dapat menangkap hakikat. Belajar matematika perlu melibatkan potensi intelektual, emosional, dan spiritual secara bersamaan. Perlu penggunaan aql dan qalb secara bersama, melalui jalur jasmani (kasab) dan juga jalur ruhani (kasyaf). Aspek pengembangan kemampuan berpikir (kognitif), sikap (afektif), dan prilaku (psikomotor) dalam belajar matematika dapat tercapai dengan baik dengan paradigma ulul albab. Potensi dzikir untuk mengembangkan aspek afektif dan fikir untuk mengembangkan aspek kognitif agar menghasilkan amal sholeh (psikomotor). Belajar matematika yang abstrak, yang memerlukan kemampuan pikir dan imajinasi dapat dilakukan dengan paradigma ulul albab yang menggunakan pendekatan rasionalis, empiris, dan logis (bayani dan burhani) sekaligus pendekatan intuitif, imajinatif, dan metafisis (irfani).

Pada bagian kedua, penulis mengurai tentang aspek-aspek matematika yang termaktub dalam al-Qur’an. Penulis ingin membuktikan bahwa ternyata di dalam al-Qur’an itu juga membicarakan konsep–konsep matematika. Hal ini akan dapat mematahkan “kepercayaan” sebagian orang yang meyakini bahwa matematika itu produk Barat. Konsep yang dipaparkan di antaranya mengenai: konsep himpunan, bilangan, pengukuran, statistika, estimasi, dan keajaiban-keajaiban matematika lainnya yang tersurat dalam al-Qur’an.1

Dan tahukah anda bahwa ilmu matematika itu sendiri pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan Islam yaitu Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al-Khwarizmi atau yang biasa dikenal di kawasan Eropa dengan nama Algorisme. Al-Khwarizmi adalah orang muslim pertama dalam ilmu hitung atau matematika.. Beliau yang pertama kali menemukan Algorisme. Algorisme itu sendiri adalah sistem hitungan nilai menurut tempat, dari kanan ke kiri, puluhan ratusan, ribuan, dan seterusnya, begitu pula sistem decimal (persepuluhan) sebagai umum pengganti sistem sexagesimal (perenampuluhan) yang umum dicapai zaman dulu dalam kebudayaan – kebudayaan Semit.

Selain itu, Al-Khawarizmi juga menemukan riwayat angka nol. Angka nol dalam bahasa Arab disebut sifr. Dengan angka ini kita bisa menghitung puluha, ratusan, ribuan dan seterusnya. Karena pada zaman dulu, untuk menghitung digunakan alat yg disebut dengan abacus atau sempoa. Dan AL-Khawarizmi juga membuat sebuah buku yang telah disalin kedalam bahasa Latin oleh Prince Boncompagni yang berjudul “Trattati d’Arithmetica”. Buku ini menmbahas beberapa soal hitungan dan asal usul angka. Buku ini terbit di Roma pada tahun 1857M.

Karya Al-Khawarizmi yang lain adalah aljabar. Dan yang menarik adalah bahwa dalam mengembangkan aljabar, terdapat sesuatu yang sangat religius di dalam pemikiran Al-Khawarizmi, tidak hanya teori abstrak. Ia menulis buku tentang aljabar sebagai tanggapan dari permintaan Khalifah untuk menciptakan metode yg sederhana untuk membuat perhitungan berdasarkan prinsip Islam mengenai warisan, harta pusaka dan lainnya.2 Sehingga terciptalah aljabar yang menggunakan variable – variable. dalam bidang aljabar, belum pernah ada metode yang bagus kecuali setelah al-Khawarizmi menulis bukunya yang berjudul al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah. Uraian dan perkalian merupakan operasi bagi semua masalah ilmu pasti yang terangkum dalam enam persamaan.3

1. AB2 = CB

2. AB2 = D

3. AB = D

4. AB2 + BC = D

5. AB + D = BC

6. BC + D = AB2

Selain Al-Khawarizmi, masih ada nama – nama ilmuwan Islam lain yang memberikan kontribusinya dalam matematika.seperti Omar Khayyam (1048-1122 M) dan Nashiruddin at-Thusi (1201-1274 M) menunjukkan bahawa setiap pembesaran rasio, yang sepadan maupun tidak, adalah bilangan, rasional maupun irrasional. Dan teori tersebut kemudian secara pelan dan lambat menuju kesempurnaannya disaat bermulanya zaman renaissans di Eropa. Selain itu juga ada ilmuan lain yang bernama Tsabit Bin Qurrah yang dianggap sebagai ahli geometri terbesar disamping sebagai matematikus dan astronomer. Tsabit bin Qurrah merupakan penyempurna atas karya – karya Al-Khawarizmi. Ia menemukan pemecahan soal khusus tentang persamaan pangkat tiga (kubik). Dan persamaan tersebut sebenarnya sudah menjadi perhatian di kalangan ilmuwan Muslim, terutama sekali oleh para ahli matematika, misalnya Abu Ja’far Al-Khazin yang sanggup menyelesaikannya dengan bagian – bagian atau memecahkan kerucut. Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa para ilmuwan Islam memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan matematika. Hampir sebagian teori matematika dasar ditemukan dan dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim sehingga bisa berkembang seperti sekarang ini..

Sumber : filsafat.kompasiana.com

Posted on 27/07/2012, in BELAJAR, MATEMATIKA, NEWS and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Komentar disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 191 other followers

%d bloggers like this: