Belajar dengan Suara Keras

Apakah anak Anda atau Anda pada masa sekolah dulu sering membaca buku pelajaran dengan suara keras?

Banyak anak usia SD yang selalu mengeraskan suaranya saat belajar. Yang paling sering terlihat adalah saat membaca sebuah bacaan, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Kebiasaan membaca keras lambat laun akan hilang sejalan dengan perkembangan usia dan jenis bacaan yang dibacanya. Tetapi tetap ada anak yang harus membunyikan-sekalipun tidak dengan suara keras-apa yang dibacanya.
Suatu kali teman saya menegur anaknya yang belajar bahasa Inggris sambil membaca semua kalimat dengan suara keras. Ibunya menegur begini, “Nak, kalau belajarnya teriak-teriak seperti itu, nanti yang pinter tonggone (tetangganya)”. Saya meledak tertawa mendengarnya. Si kecil yang duduk di kelas 6 SD kemudian berdalih bahwa dia tidak bisa mengerti bacaannya kalau tidak dibaca keras-keras.
Di Jepang, ada beberapa sekolah yang menerapkan kelas membaca di pagi hari selain pelajaran membaca yang diperoleh pada jam pelajaran bahasa Jepang. Pelajaran membaca di pagi hari untuk kelas atas (4-6) biasanya adalah membaca dalam hati, dan masing-masing siswa bebas membawa buku bacaannya sendiri. Sementara pelajaran membaca untuk kelas bawah (kelas 2-3) biasanya dengan suara lantang. Dalam pelajaran bahasa Jepang, kegiatan membaca dilakukan dengan berdiri tegak sambil memegang buku sejajar dengan mata, dan membacanya dengan suara lantang.

Cara membaca seperti di atas memiliki nilai-nilai positif yaitu:
1) Melatih anak untuk mengucapkan dengan benar
2) Melatih anak untuk tidak malu-malu mengeluarkan suaranya, walaupun salah bacaannya
3) Terkait di atas, akan timbul kepercayaan diri anak
4) Memudahkan anak untuk mengingat isi bacaan

Adapun nilai negatifnya adalah anak tidak bisa membaca dengan cepat. Untuk sekedar latihan membaca, maka cara membaca dengan keras bisa diterapkan, tetapi jika yang ditekankan adalah pemahaman yang lebih luas, maka membaca dalam hati adalah langkah yang lebih tepat karena tanpa suara, bacaan akan lebih cepat terselesaikan.
Sering saya alami ketika mengajar anak-anak di MA dalam pelajaran bahasa Inggris maupun bahasa Arab, mereka membaca dengan suara yang pelan, dan bolak-balik menatap guru, seakan meminta pertolongan terhadap suatu bacaan yang sulit. Demikian pula sikap ini berimbas pada kemampuan bicara dan mengungkapkan pendapat. Saya kira hal ini lahir karena rasa percaya dirinya tidak dipupuk dengan baik sejak dia duduk di bangku TK/SD.

Jadi, ketika anak sudah menginjak masa dia bisa membaca dengan baik, maka biarkan dia memilih cara belajar/membaca dengan suara keras. Bukankah dengan mendengarkan mereka membaca lantang, orang tua sekaligus dapat mengoreksi betul tidaknya bacaan yang dibacanya?

Biarlah belajar dengan suara keras sekaligus juga meminterkan tetangganya

Posted on 21/07/2012, in BELAJAR. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Komentar disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: